Rabu, 02 Agustus 2017

Terobosan baru BMKG Kualanamu untuk Penerbangan

Assalamualaikum wrwb.

Meteorologi Penerbangan/Stasiun BMKG Bandara Internasional Kualanamu membuat suatu terobosan/inovasi terbaru dengan membuat sebuah website yg ditujukan untuk para praktisi penerbangan, mereka menyebutnya dengan Flight Doc(disingkat Fdoc). Fdoc ini berisi tentang data pengamatan yg berkaitan dengan aktivitas penerbangan, baik itu METAR, TAFOR, VOLCANIC ASH, PROGNOSIC WX, Dll..

Ini masih merupakan Launching dan sosialisasi, untuk lebih lengkapnya nantikan postingan selanjutnya.

Senin, 29 Desember 2014

Check and Re-Check. Kapan Sih Pesawat perlu melakukan Check/Pemeriksaan?

Check and Re-Check. Kapan Sih Pesawat perlu melakukan Check/Pemeriksaan?

tidak selamanya penerbangan berjalan dengan lancar, terkadang terdengar Pengumuman dari Petugas yang memberi Info bahwa Pesawat Mengalami Keterlambatan dari waktu berangkat yang sudah di tentukan karena MASALAH TEKNIS ada beberapa penjelasan singkat yang agak Mudah di Pahami.. Ini adalah beberapa Langkah yang di lakukan oleh Petugas Tehnik
  • 1.DAILY CHECK
DAILY CHECK dilakukan pemeriksaan setiap 48 Jam. Yang dilakukan oleh petugas tehnik adalah melakukan pemeriksaan Pressure, Check Indicator, Walking Inspection (Berjalan Mengitari pesawat untuk melihat jika ada Kerusakan secara Kasat Mata) dan lain-lain..
  •  2. WEEKLY CHECK
WEEKLY CHECK dilakukan  pemeriksaan setiap 7 Hari. Yang dilakukan petugas tehnik adalah melakukan pemeriksaan yang sama dilakukan oleh Prosedur DAILY CHECK, dan ada tambahan pemeriksaan berupa Check Kondisi Ban, tersedianya OLI di Engine dan lain-lain..

  • 3. A-CHECK 
A-CHECK dilakukan pemeriksaan setiap 750 Flying Hours. Yang dilakukan oleh petugas tehnik adalah pemeriksaan SKIN BODY AIRCRAFT dan lain-lain..

  • 4.C-CHECK
C-CHECK dilakukan pemeriksaan setiap 7.500 Flying Hours. Yang dilakukan oleh petugas tehnik adalah pemeriksaan Lebih Mendetail seperti :
     1. CRIMI (COMPONENT REMOVAL & INSTALATION MAINTENANCE)
     2. ISP  (INSPECTION STRUCTURE PART)
     3. Etc ......

............................................................................................................................................
Setelah di lakukan Pemeriksaan, Petugas tehnik  segera membuat REPORT kepada Station yang membutuhkan informasi tentang kondisi pesawat (AIRCRAFT STATUS)
kategori Report sesuai dengan  CHECK.
1.DAILY CHECK REPORT
2.WEEKLY CHECK REPORT
3.A-CHECK REPORT
4.C-CHECK REPORT

Selain pemeriksaan rutin, ada juga pemeriksaan dan bahkan pengerjaan yang membutuhkan perlakuan khusus seperti :
  • Pesawat RTG (RETURN TO GROUND)
Yang dimaksud Kondisi Pesawat RTG/RETURN TO GROUND adalah dimana pesawat pada saat melakukan PUSH-BACK dan akan melakukan Starting Engine (menghidupkan mesin) ternyata mesin Auto ShutDown, mesin sudah menyala dan Mati dengan Sendirinya.
  • Pesawat RTA (RETURN TO APPRON)
 Yang dimaksud Kondisi Pesawat RTA/RETURN TO APPRON adalah dimana pesawat pada saat melakukan PUSH-BACK & TAXI, pada saat perjalanan di TAXI WAY Pesawat mengalami Trouble pada Engine,APU, Etc..  yang mengharuskan Pilot mengambil keputusan untuk kembali lagi menuju APPRON.
  • Pesawat RTB (RETURN TO BASE)
Yang dimaksud Kondisi Pesawat RTB/RETURN TO GROUND adalah dimana pesawat pada saat sudah melakukan TAKE-OFF pada saat proses menuju TOC/TOP OF CLIMB terjadi Permasalahan Teknis yang secara mendadak/Trouble yang mengharuskan Pesawat Harus Kembali dan LANDING di bandara yang sama.

kegiatan tersebut bersifat 'MANDATORY'

SEMOGA BERMANFAAT.

NB : Sumber informasi adalah Pengalaman Pribadi Penulis.

@andhikayudhaputra
TOC ON DUTY / AGUNG SUWITO
17.20 WIB
12/29/2014
Soekarno-Hatta Int'l Airport
OCC-PT.CITILINK INDONESIA.-GARUDA INDONESIA

Minggu, 28 Desember 2014

Pengetahuan Ruang Lingkup OCC-OPERATION CONTROL CENTER pada sebuah Operasi Penerbangan Sipil Berjadwal

Pengetahuan Ruang Lingkup OCC-Opeation Control Center pada sebuah Operasi Penerbangan Sipil

apa yang anda bayangkan bagaimana pesawat penerbangan berjadwal bisa berjalan dan direncanakan.
apakah pesawat tinggal menghidupkan mesin, lalu berjalan ke landasan pacu dan segera lepas landas ke Bandara tujuan? Segampang Itu kah?

Manager OCC-Capt, Ikhwan Adzani PT.Citlink Indonesia

semua harus direncanakan dengan perencanaan yang mempertimbangkan banyak hal seperti :
1. Ketersediaannya Slot Time (di ajukan kepada IDSC/Indonesia Slot Data Cordination dan bandara tujuan)
2. Kelengkapan dokumen Pesawat Terbang (Sertifikat Radio,RNP, RNAV, Aircraft Data dan lain-lain..)
3. kelengkapan Air Crew .(Komposisi Crew)
4. Jumlah Pesawat yang Layak terbang
5. Menon-aktifkan Pesawat yang tidak Layak terbang
6. Menghitung Jumlah Jam Terbang PILOT dalam 1 Hari, Seminggu, dan Setahun agar tidak melebih batas jam terbang yang telah di tentukan.
7, Cek Kelengkapan dan Validasi Dokumen Air Crew/Pilot/Flight Attendant (Commercial Pilot License /ATPL, Certificate Flight Attendant, PASPORT&VISA/apabila terbang rute Internasional, Etc..)
8. Mengantisipasi Air Crew yang bertugas apabila berhalangan hadir dan segera mencari penggantinya (Day Off, Annual Life, Etc..)
9. Aktif menghubungi Station-Station Bandara yang di tuju untuk Update Informasi terbaru guna Lancarnya aktifitas penerbangan (info Cuaca, NOTAM, ASHTAM, Etc..)
10.Kordinasi dengan Teknisi untuk mendapat mengambil keputusan untuk memilih pesawat yang akan di terbangkan pada jadwal penerbangan di hari selanjutnya.
11. Membuat Jadwal Air Crew.
12. Membuat Jadwal Penerbangan Pesawat yang akan di terbangkan

dari sekian beberapa hal, ini adalah tugas dan tanggung jawab siapa??..

Operator Penerbangan sudah Membuat divisi yang akan menangani semua hal yang di butuhkan untuk operasional Penerbangan. divisi ini Diberi nama OCC-OPERATION CONTROL CENTER

OCC-OPERATION CONTROL CENTER tidak bekerja sendirian, mereka di bantu oleh FMC-FLIGHT MOVEMENT CONTROL, CMC-CREW MOVEMENT CONTROL, DAN TOC-TECHNICAL OPERATION CENTER

OCC :
1.FMC
2.CMC
3.TOC

1.FMC-FLIGHT MOVEMENT CONTROL = Tugas FMC adalah Memonitor dan Membuat jadwal Pergerakan pesawat yang akan dipakai terbang. FMC harus kordinasi dengan Divisi CMC untuk mendapatkan data PILOT dan CABIN CREW dan juga kordinasi ke TOC untuk mendpatkan data berupa AIRCRAFT STATUS apakah pesawat layak terbang atau tidak terbang.

2.CMC-CREW MOVEMENT CONTROL = Tugas CMC adalah Memonitor dan membuat jadwal Komposisi Crew(PILOT&CABIN CREW) untuk siap terbang dan mencari CREW yang berhalangan untuk tidak bisa terbang(SAKIT,LIBUR,IZIN,TRAINING, Dll..)
CMC harus memberikan datanya kepada Petugas FMC.

3.TOC-TECHNICAL OPERATION CENTER= Tugas TOC adalah mengeek dan memeriksa Pesawat (AIRCRAFT STATUS) apakah layak dipakai untuk terbang atau tidak.
data dari TOC harus dilaporkan kepada petugas FMC.

Dengan demikian, setelah semua data sudah terkumpul, barulah penerbangan Berjadwal bisa dilaksanakan sehingga bisa menciptakan On Time Performance, dan Safety.

ini saya mengambil contoh dari tempat saya beraktivitas sehari-hari. tidak semua operator penerbangan menggunakan struktur kerja yang sama seperti ini. ini hanya gambaran singkat saja.
semoga bermanfaat.


NB : Sumber adalah pengalaman Pribadi Penulis & COM dari Perusahaan Dimana Penulis Mengambil Contoh

@andhikayudhaputra
09.20 WIB.
12/28/2014
Soekarno-Hatta Int'l Airport
OCC-PT.CITILINK INDONESIA.-GARUDA INDONESIA

Selasa, 16 Desember 2014

Perlukah Penerbang Memiliki Disiplin ?? Banyak Hal Positif nya ternyata (safety is not just a slogan but safety is our primary requirements for life)

Perlukah Penerbang Memiliki Disiplin ??  Banyak Hal Positif nya ternyata.
"
safety is not just a slogan

but safety is our primary requirements for life"


Tradisi Mencium Ban Pesawat Latih PK-SDQ
"
safety is not just a slogan
but safety is our primary requirements for life"
Di awal Pendidikan menjadi Seorang Penerbang, di silabus pendidikan menyisipkan materi LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), kenapa harus ada LDK sih?? hal ini dipandang Perlu untuk mengawali Pra-Pendidikan Penerbang untuk menimbulkan dan Menciptakan Rasa Kepedulian antar sesama Makhluk hidup, Taqwa kepada Tuhan, Bertanggung Jawab atas semua perbuatannya termasuk semua keputusannya, rasa cinta tanah air kepada bangsa dan negaranya serta menumbuhkan sikap kerendahan hati sebagai seorang penerbang, coba anda bayangkan, seseorang lulus Penerbang di usia dini 'contoh 18 tahun'. pasti belum bijaksana dalam mengelola hidup dan perekonomian untuk dirinya sendiri, yang paling di takutkan adalah jika di usia muda sudah dengan mudah nya mendapatkan fasilitas yang dia inginkan adalah akan terjerumus ke Hal-hal bersifat Negatif
banyak materi , teori dan Praktek pada saat seorang penerbang mengikuti pendidikan LDK.
diharapkan setelah mengikuti LDK akan menghadirkan Karakter yang baru bagi seorang penerbang serta Kesucian dalam Pikiran, Perkataan dan Perbuatan.

di awal, para siswa penerbang akan di bekali dengan materi LDK, sementara di akhir pendidikan penerbang, para siswa penerbang akan di bekali lagi pembelajaran yang di namakan CRM (Crew Resource Management) .

CRM lebih mengarah kepada Kerja sama antar rekan, team, dan berhubungan dengan orang lain.
hal yang di capai adalah ada harapan akan tumbuh rasa Toleransi , saling menghormati, saling menghargai, serta lebih kearah rasa sosial sebagai makhluk hidup.

Setiap kesalahan akan di kenakan sanksi bagi para pelanggar nya, namun di harapkan dalam pemberian sanksi/hukuman menggunakan cara yang sifatnya mendidik dan dapat menimbulkan efek jera bagi para pelanggarnya.

Tujuan kombinasi dari sistem pendidikan seperti ini adalah di harapkan para siswa penerbang akan menjadi penerbang yang patuh dan taat kepada peraturan yang sudah di tetapkan (SOP)

Bayangkan jika Penerbang tidak Disiplin dalam menerbangkan pesawatnya apakah yang terjadi??

contoh :

sebelum terbang , seorang penerbang akan melakukan Brieffing kepada Air Crew (Captain+First Officer+Cabin Crew/Flight Attendent) dan penerbang akan di bantu oleh FOO (Flight Operation Officer) / Flight Dispatcher.

pada saat PRE-FLIGHT , Pilot sedang melaksanakan Brieffing bersama Flight Dispatch, di jelaskan oleh Flight Dispatch bahwa ada NOTAM yang signifikan pada penerbangan pesawat yang akan di terbangkan.

isi NOTAM tertulis bahwa, selama Pesawat masih berada di kawasan APRON, Pilot tidak diperbolehkan untuk menyalakan TRANSPONDER nya sebelum pesawat berada pada posisi LINE-UP.

padahal isi NOTAM sudah di sampaikan oleh petugas Flight Dispatch, namun hasil Brieffing tersebut di abaikan oleh PILOT, pada saat pesawat ,masih berada di APRON, Pak Pilot malah menyalakan Transponder-nya.
apakah yang akan terjadi?? (NO ROOM FOR ERROR)

memang Pilot tidak merasakan dampak Negatifnya secara cepat dan langsung, tapi pernahkah terpikirkan oleh Pak Pilot Jika tindakkannya dapat Menimbulkan masalah baru di tempat lain di luar pesawat??

itu sudah pasti, ketika Pilot Menyalakan/aktif. Transpondernya, hal ini akan menimbulkan Kebingungan di ruang kerja Rekan-rekan dari ATC(Air Traffic Controller) khususnya di bagian RADAR MONITOR, rekan ATC akan kebingungan karena tiba2 ada Pesawat dan tidak ada Squawk Number, dan menimbulkan penuhnya Monitor Radar dengan titik-titik tanda lokasi pesawat tersebut.

bayangkan jika semua pilot tidak displin dan menyalakan transponder nya, mungkin Radar Monitor Bisa Penuh dengan titik-titik yang saling bertumpuk sehingga menyulitkan kerja dari rekan2 ATC.

mari mulailah untuk melatih disiplin sejak dini, disiplin tidak hanya dimiliki oleh penerbang saja, disiplin dimiliki oleh semua lapisan masyarakat.

budayakan displin dari hal-hal terkecil, misalnya jika berkendara roda 2 hendaklah mengikuti aturan lalulintas, Menggunakan Helm, Lengkapi dan Bawa surat berkendara anda(SIM,STNK)
buanglah sampah pada tempatnya, karena jika sembarangan akan menimbulkan sampah yg akan merusak kesehatan serta parahnya dapat menimbulkan Banjir.

Disiplin Penerbang adalah Kunci keamanan yang utama (Safety, safety and safety)

(NO ROOM FOR ERROR)

"
safety is not just a slogan

but safety is our primary requirements for life"
NB : Sumber adalah dari Pengalaman Pribadi Penulis 

Dalam Bekerja, Captain Pilot dan First Officer (FO) ternyata ada batasan umurnya??

Dalam Bekerja, Captain Pilot dan First Officer (FO) ternyata ada batasan umurnya??

illustrasi Gambar, Narasumber di dalam Cockpit B 737
Apakah judul tersebut benar? jika di lihat dari sisi Psikologi, ternyata hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis para Pilot/Penerbang.
kenapa? hal ini di karenakan tingkat kecerdasan emosional yang sama-sama meiliki perbedaan.

hal ini menjadi penentu para Penerbang/Pilot untuk mengambil suatu keputusan ketika sedang Terbang.

Bagaimana cara menghitung Batasan umur antara Captain Pilot dan First Officer (FO) ??
Batasan Perhitungan nya adalah ----

Umur Captain Pilot + Umur First Officer = hasilnya Tidak Boleh Lebih dari  "115"
Contoh :
1. Umur Captain 58 tahun + Umur FO 57 tahum = 115 (berarti tidak di izinkan)
"tergantung operator penerbangan untuk penerapannya" 

2. Umur Captain 65 tahun + Umur FO 30 tahun = 95 (berarti di izinkan/hasil tidak lebih dari 115)
"tergantung operator penerbangan untuk penerapannya

Sumber : Pengalaman Pribadi Penulis Pada Saat Pendidikan

Apa sih yang dimaksud dengan Right Hand Seat (RHS) ?? dan apa saja sih Jenis Jenjang jabatan Captain Pilot ??

Apa sih yang dimaksud dengan Right Hand Seat (RHS) ?? dan apa saja sih Jenis Jenjang jabatan Captain Pilot ??
Kiri, Capt. Charles Triharto & Kanan, Narasumber (Airbus A320)

Right Hand Seat adalah dimana seorang Penerbang/Pilot yang sudah menjabat sebagai Captain (Bukan FO/First Officer). Fungsi dari Right Hand Seat adalah Penerbang/Pilot boleh duduk di Sebelah Kiri dan Sebelah Kanan Cockpit.

Captain Right Hand Seat/RHS bukan Lah Captain Instruktur , namun Captain Right Hand Seat /RHS adalah Captain yang sudah RQ (Route Qualification)

Jenis dan Jenjang Captain Pilot.
1. Captain Instructor
2. Captain Right Hand Seat (RHS)
3. Captain Route Qualification (RQ)
4. Captain (Captain Pilot Biasa/Basic)

NB: Sumber dari Pengalaman Pribadi Penulis ketika Mengikuti Pendidikan.
Apabila Hendak Mempublikasikan Hendaklah Mencantumkan Narasumbernya. Terimakasih